Seharusnya kegiatan foto - foto adalah hal yang mudah. Baiklah, mungkin tidak semua dari kita punya jiwa model seperti Nadya Hutagalung atau David Beckham, tapi paling tidak kita bisa memberikan pose paling natural, yaitu senyum. (Sejelek - jeleknya orang, apa susahnya sih senyum).
Berhubungan dengan hal potret - memotret, saya bertemu orang yang tidak mau difoto. I repeat with capslock, TIDAK MAU DIFOTO. Banyak orang berfoto, tapi mungkin saja dia tidak tampil bagus ketika difoto. Dia hanya bagus difoto untuk angle tertentu. Tapi jujur saja, adalah hal langka bagi saya, bertemu seseorang yang tidak mau difoto. Dalam kondisi apapun, kecuali foto KTP mungkin. (Dia ga mungkin memasang gambar telur di KTP-nya kan?)
Sebut saja dia Lia. Saya mengenalnya ketika saya magang di sebuah KAP. Menurut pendapat saya, dia bukanlah orang yang introvert, cupu, atau berpenampilan buruk. Tapi suatu saat, ketika iseng di kantor dan saya mengajak orang - orang untuk berfoto, dia dengan kokohnya berkata “jangan foto aku ya” atau “biar aku aja sini yang motoin”. Atau parahnya lagi dia beranjak dari tempat duduknya, menghindar, dan menunggu kita para model - model kualitas kwaci ini selesai berfoto - foto.
The worst thing, adalah ketika kita makan - makan di sebuah resto, yang ternyata itu adalah perayaan ulang tahunnya, dan tiba saatnya kita berfoto. Eh si Lia malah berdiri dan menghindar. Kita pun berteriak layaknya bonek dan mengajaknya berfoto, namun dia tetap memegang teguh prinsipnya. You’ll never get my pict!
Saya tidak tau, mengapa dia seperti itu. Mungkinkah dia terlalu trauma, karena pernah dipotret ketika ngupil? Itu tidak terlalu buruk.
Dia lupa, bahwa suatu hari kita akan lupa. Suatu hari kita akan lupa masa - masa indah kita, masa - masa bermain dengan kita, makanan favorit kita, teman terbaik kita, suatu hari kita akan lupa semua itu. Dan foto, mengingatkan kita akan semua itu. Oke, mungkin tidak semua foto menangkap kenangan indah kita. Mungkin ada moment buruk kita yang tertangkap kamera. But, so what! Suatu hari, di masa depan kita akan melihat foto - foto itu, berjalan lagi di masa lalu, menertawakan kenangan - kenangan yang di masa depan mungkin tidak bisa kita lakukan lagi.
Kita juga pastinya tidak hidup sendiri. Ada teman kita, orangtua, saudara dan anak - anak kita yang akan mengenang kita. Salah satunya lewat foto. Mungkin suatu hari anak - anak saya melihat foto saya dan berkata “Wah papaku ternyata ganteng juga mudanya, bisa main gitar pula.” Atau “Papa dulu pernah liburan ke pantai ya, kesana yuk Pa!”. Itulah kegunaannya. Kita bisa berbagi cerita, kenangan, kebahagiaan, kesedihan, bersama orang - orang yang kita sayangi. Dengan foto.
Well, itulah manfaatnya mengapa diciptakan semua teknologi kamera ini. Untuk mengabadikan moment. Untuk mengabadikan diri kita, untuk mengenang kita. Saya sangat takut, kalau - kalau tidak ada hal yang bisa dikenang dari si Lia ini…
Tidak bisa mengenang keberadaanya dan kebaikannya…