Journey

God, You’re Rock!

Kadang kita menganggap, Tuhan adalah Dzat yang sakral, “kaku”, dan menakutkan mungkin, dengan segala hukuman atas perintah-Nya yang tidak kita jalankan.

Kita terlalu mengerdilkan ke-Maha-an Tuhan.

Semua lelucon, guyon, dan rasa humor yang dimiliki 6 milyar manusia di dunia ini, bukankah itu semua berasal dari Tuhan? Jadi Tuhan adalah Maha Bercanda juga kan?

Jadi mengapa kita tidak sekali kali berdoa, atau memuji Tuhan dengan bahasa bercanda dan menganggap-Nya sebagai teman. Seperti yang saat ini sedang dilakukan Tuhan kepada saya.

Ya Allah, yang Maha (dan sedang) membolak - balikkan hati manusia, You’re Rock!    

Show Yourself on Pict!

Seharusnya kegiatan foto - foto adalah hal yang mudah. Baiklah, mungkin tidak semua dari kita punya jiwa model seperti Nadya Hutagalung atau David Beckham, tapi paling tidak kita bisa memberikan pose paling natural, yaitu senyum. (Sejelek - jeleknya orang, apa susahnya sih senyum).

Berhubungan dengan hal potret - memotret, saya bertemu orang yang tidak mau difoto. I repeat with capslock, TIDAK MAU DIFOTO. Banyak orang berfoto, tapi mungkin saja dia tidak tampil bagus ketika difoto. Dia hanya bagus difoto untuk angle tertentu. Tapi jujur saja, adalah hal langka bagi saya, bertemu seseorang yang tidak mau difoto. Dalam kondisi apapun, kecuali foto KTP mungkin. (Dia ga mungkin memasang gambar telur di KTP-nya kan?)

Sebut saja dia Lia. Saya mengenalnya ketika saya magang di sebuah KAP. Menurut pendapat saya, dia bukanlah orang yang introvert, cupu, atau berpenampilan buruk. Tapi suatu saat, ketika iseng di kantor dan saya mengajak orang - orang untuk berfoto, dia dengan kokohnya berkata “jangan foto aku ya” atau “biar aku aja sini yang motoin”. Atau parahnya lagi dia beranjak dari tempat duduknya, menghindar, dan menunggu kita para model - model kualitas kwaci ini selesai berfoto - foto.

The worst thing, adalah ketika kita makan  - makan di sebuah resto, yang ternyata itu adalah perayaan ulang  tahunnya, dan tiba saatnya kita berfoto. Eh si Lia malah berdiri dan menghindar. Kita pun berteriak layaknya bonek dan mengajaknya berfoto, namun dia tetap memegang teguh prinsipnya. You’ll never get my pict!

Saya tidak tau, mengapa dia seperti itu. Mungkinkah dia terlalu trauma, karena pernah dipotret ketika ngupil? Itu tidak terlalu buruk.

Dia lupa, bahwa suatu hari kita akan lupa. Suatu hari kita akan lupa masa - masa indah kita, masa - masa bermain dengan kita, makanan favorit kita, teman terbaik kita, suatu hari kita akan lupa semua itu. Dan foto, mengingatkan kita akan semua itu. Oke, mungkin tidak semua foto menangkap kenangan indah kita. Mungkin ada moment buruk kita yang tertangkap kamera. But, so what! Suatu hari, di masa depan kita akan melihat foto - foto itu, berjalan lagi di masa lalu, menertawakan kenangan - kenangan yang di masa depan mungkin tidak bisa kita lakukan lagi.

Kita juga pastinya tidak hidup sendiri. Ada teman kita, orangtua, saudara dan anak - anak kita yang akan mengenang kita. Salah satunya lewat foto. Mungkin suatu hari anak - anak saya melihat foto saya dan berkata “Wah papaku ternyata ganteng juga mudanya, bisa main gitar pula.” Atau “Papa dulu pernah liburan ke pantai ya, kesana yuk Pa!”. Itulah kegunaannya. Kita bisa berbagi cerita, kenangan, kebahagiaan, kesedihan, bersama orang - orang yang kita sayangi. Dengan foto.

Well, itulah manfaatnya mengapa diciptakan semua teknologi kamera ini. Untuk mengabadikan moment. Untuk mengabadikan diri kita, untuk mengenang kita. Saya sangat takut, kalau - kalau tidak ada hal yang bisa dikenang dari si Lia ini…

Tidak bisa mengenang keberadaanya dan kebaikannya…   

Tapi yang “another arrives” ini kan belum tentu satu tujuan ama kita. WE MUST RUN!

Tapi yang “another arrives” ini kan belum tentu satu tujuan ama kita. WE MUST RUN!

(Source: kuntawiaji)

Don’t be narrow.

Seharusnya makin banyak hal yang dialami seseorang, maka orang itu akan berubah. Adaptasi.

Seperti makin banyak buku yang dia baca, menonton film lebih banyak dengan pilihan acara yang beragam, mempunyai teman yang lebih banyak,  bertemu berbagai orang, mengunjungi berbagai tempat, atau mengalami hal - hal yang berbeda setiap harinya. Hal - hal ini akan mengubah seseorang, memberikan pelajaran yang padat, pola pikir yang berbeda, mempunyai solusi yang lebih banyak atas suatu masalah, sikap dan perilaku yang adaptif, dan berwawasan luas. 

Semuanya itu seharusnya merubah orang menjadi lebih baik dan “berisi”.

Heran, adalah ketika seseorang mengalami banyak hal, tapi mereka tidak pernah belajar dari hal itu. They see this world in black eyeglasses. I wonder, why it happens to them? 

This world and your life itself, are the best teacher. Poorly, many people outside there being narrow-minded and don’t learn anything from it. Don’t be narrow!

Meet The Problem

I hit my very low. I know there’s something wrong with me, since i can’t comfortly sleep in the night for three days.

My body isn’t sick, my mind is.

Seperti semua orang, saya pun punya masalah. Sesuatu yang saya takutkan, seperti skripsi yang mendadak tertunda, kebingungan tentang akan menjadi apa saya nanti, dan ‘hal - hal-sepele-yang-saya-anggap-besar’ lainnya. Hal - hal ini menjadi menakutkan di malam hari, ketika lampu kamar mulai mati. All this things make my mind like battlefield. Doing war, battle, and make noise inside…

Suatu masalah bagi seseorang, belum tentu jadi masalah bagi orang lain. Dan ketika masalah itu datang, tiap - tiap indvidu juga menghadapinya dengan cara yang berbeda. All those quotes become best friend. Kita pun jadi sok Mario Teguh dengan men-tweet dan retweet sebanyak - banyaknya tweet bernada motivasi. Berharap agar kata - kata itu meresap dalam jiwa dan kembali memberi semangat menghadapi masalah.

Masalah, bahkan membuat kita merasakan sendiri quote - quote itu, dan terkadang ga semua quote itu benar. Bahwa hujan ga selalu berujung pelangi, bahwa bangkit dari kegagalan ke-1000 itu tidak mudah, bahwa sulit untuk bersyukur di tengah masalah hidup. All those quotes become best friend.

But, those quotes don’t work for me.

Setelah beberapa hari, saya menemukan jawaban dari sebuah buku yang saya baca. Sederhana, bahwa stress atau masalah berasal dari harapan kita yang tidak terpenuhi. Dan hal itu bertambah besar tergantung dari apa yang ia katakan dan bagaimana dia berperilaku pada dirinya sendiri. Our mind is either disease and cure for itself.

Let me end this shit with my absurd quote, problem make you live. Just don’t let it too much or you will feel life in hell (Quote yang buruk, tapi kalau nanti nemu quote yang lebih bagus, saya ganti deh, haha)

Happy dealing with your problem! 

Your morning or afternoon, or when you drive in the rainy day, when you sit on the quiet relax room while drink coffe or tea, or when you dance with your love, it will be perfect if it accompanied with Norah Jones’s song. 
Especially these two song, Come Away With Me, Don’t Know Why.
Thanks for magical song, Norah! 

Your morning or afternoon, or when you drive in the rainy day, when you sit on the quiet relax room while drink coffe or tea, or when you dance with your love, it will be perfect if it accompanied with Norah Jones’s song. 

Especially these two song, Come Away With Me, Don’t Know Why.

Thanks for magical song, Norah! 

(Source: gokhanesque)

Meet my newborn nephew…

 

Saya boleh berbangga dan bersyukur karena sebagai Om (atau lebih familiar disebut Paman) saya bisa dibilang kaya karena saya punya banyak keponakan. Salah satunya lahir seminggu yang lalu, and it always excite to welcoming a newborn baby.

Lucu sekali ketika sebuah kelahiran seorang manusia, predikat panggilan seseorang menjadi berubah. Seorang lelaki menjadi dipanggil Ayah, seorang perempuan mendadak berubah menjadi Ibu, yang dulunya Papa menjadi Kakek, dan saya yang sebelumnya dipanggil “Mas” atau “Dik” oleh saudara -saudara lainnya, tak lama lagi akan menjadi “Om” begitu keponakan saya ini sudah bisa bicara. Semoga saja dia bangga punya Om seperti saya (Nanti Om ajarin main gitar, biar cewek - cewek pada terkagum).

Kelahiran seorang manusia juga terkadang menyadarkan saya, bahwa saya sudah tua (hikks). Saudara - saudara sudah banyak yang menikah dan punya anak, berarti gak lama lagi, saya juga akan menyusul ke jenjang pelaminan dengan jodoh yang belum jelas, haha. Saya harus memasuki periode yang disebut membangun rumah tangga dimana didalamnya ada aktivitas bekerja, mendidik anak, dan sebagainya. Sebagian orang berkata, menikah is so happy, sebagian lagi penuh derita, sebagian lagi bilang bahagia di awal - awal.  Can’t wait to experience it by myself.

Kelahiran keponakan baru mengajarkan saya, bahwa saya akan menjadi panutan adik - adik saya. Secara tidak langsung, mereka “memaksa” saya untuk menjadi dewasa dalam bertindak. Like people said, being mature is difficult, at least don’t act like a child.

Welcome to the world, boy! Eureka Satria Alfadhilah J

Sebenarnya, jodoh manusia itu banyak. Dan, yang disebut jodoh itu bukan selalu tentang siapa suami atau istri kita. Melainkan orang-orang yang memang ditakdirkan bersama atau bertemu kita.

Annisaa Dejanira

(via kurniawangunadi)

(Source: annisaadejanira, via dhebycinthia)